KABARRAKYAT.news – Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, menjadi narasumber utama dalam kuliah umum Sekolah Parlemen yang digelar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Aula Bupati Pidie Jaya, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan bertema “Aceh Emas atau Aceh Cemas” itu dibuka Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, ST., MM. Selain Haji Uma, hadir pula sebagai narasumber Nazaruddin Ismail, S.Pd.I., SH., anggota DPRK Pidie Jaya, serta Helmi, S.STP., M.Si., Asisten III Setdakab Pidie Jaya.
Turut hadir Ketua PII Aceh Rendi Febriandya, Ketua PII Pidie Jaya Yusri Mubarak, serta ratusan pelajar dan generasi muda yang mengikuti kegiatan hingga selesai.
Dalam paparannya, Haji Uma menegaskan bahwa masa depan Aceh berada di tangan generasi muda. Menurutnya, keberhasilan Aceh menuju masa depan tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang dipersiapkan sejak sekarang.
“Apakah Pidie Jaya dan Aceh ke depan menjadi Aceh Emas atau Aceh Cemas, jawabannya ada di tangan generasi muda hari ini. Kita harus mempersiapkan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, kepemimpinan, dan kemampuan membaca peluang,” kata Haji Uma.
Ia mengingatkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari persaingan global, perkembangan teknologi digital, hadirnya Artificial Intelligence (AI), hingga ancaman sosial seperti penyalahgunaan narkoba, judi online, dan pinjaman online.
Karena itu, Haji Uma menekankan tiga bekal utama yang wajib dimiliki generasi muda, yakni kompetensi, kepemimpinan, dan kemampuan melihat peluang.
Menurutnya, kompetensi tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga harus didukung kemampuan komunikasi, penguasaan teknologi, bahasa asing, keterampilan praktis, serta pola pikir kritis agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Di sisi lain, kepemimpinan bukan semata-mata soal jabatan, melainkan kemampuan memberi teladan, mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
“Kepemimpinan bukan sekadar tentang posisi atau jabatan, tetapi bagaimana seseorang mampu memberikan manfaat, menjadi teladan, dan hadir untuk menyelesaikan persoalan yang ada di tengah masyarakat,” ujarnya.
Haji Uma juga mengajak generasi muda agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan peluang di berbagai sektor, seperti ekonomi digital, UMKM, pertanian modern, perikanan, industri kreatif, hingga kewirausahaan.
Ia berharap lahir generasi Aceh yang beriman, berintegritas, inovatif, berdaya saing global, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
“Mahasiswa dan pemuda bukan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi agen perubahan, agen pembangunan, agen inovasi, agen persatuan, sekaligus agen pengawasan. Jangan hanya menjadi generasi yang menikmati sejarah, tetapi jadilah generasi yang menciptakan sejarah,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Pidie Jaya Hasan Basri mengapresiasi pelaksanaan Sekolah Parlemen yang dinilainya menjadi ruang pembelajaran politik, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan calon-calon pemimpin masa depan yang memiliki integritas, wawasan luas, serta mampu membawa Pidie Jaya dan Aceh ke arah yang lebih maju.
Kuliah umum berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti materi dan aktif berdialog dengan para narasumber mengenai tantangan generasi muda serta peran mereka dalam mewujudkan pembangunan Aceh menuju Indonesia Emas 2045.
Editor: RAHMAD


Komentar