SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IKLAN
ACEH KABAR DAERAH
Beranda » Ngaji di Warung Kopi, Beut Panteu Keude Jadi Ruang Belajar Agama Warga Samatiga

Ngaji di Warung Kopi, Beut Panteu Keude Jadi Ruang Belajar Agama Warga Samatiga

Warung kopi tak selalu identik dengan tempat bersantai. Di Gampong Leukeun, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat

KABARRAKYAT.news – Warung kopi tak selalu identik dengan tempat bersantai. Di Gampong Leukeun, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, tempat berkumpul masyarakat itu justru disulap menjadi ruang belajar agama melalui kegiatan “Beut Panteu Keude”.

Pengajian yang dikemas santai dengan konsep ceramah dan diskusi interaktif tersebut kembali digelar untuk ketiga kalinya di Warung UD. Aris, Rabu (12/8/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung rutin setiap bulan itu diinisiasi para pemuda Kecamatan Samatiga sebagai upaya mendekatkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat.

Kaperwil Mitrapol Aceh Desak Kapolda Tempatkan Polisi di SPBU dan Pelabuhan untuk Cegah Penyalahgunaan Solar Subsidi

Sejumlah unsur masyarakat turut ambil bagian, mulai dari tokoh agama, aparatur pemerintah, akademisi, mahasiswa, hingga warga setempat.

Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Barat, Dr. H. Tgk. Khairul Azhar, S.Ag., M.A., Kepala Pusat KKN dan MBKM Universitas Teuku Umar, Dr. Ir. Fitriadi, ST., MT., IPM., Kepala KUA Kecamatan Samatiga Ustadz H. Kamil Syafruddin, Lc., Kapolsek Samatiga Iptu Ade Haidir, Tgk. Miswardi, S.Sos., M.Sos., Tgk. H. T. Burhanuddin, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Ribuan Warga Meriahkan Jalan Sehat Gembira Medco E&P Malaka di Aceh Timur

Keuchik Gampong Leukeun, Kamaruzzaman, mengapresiasi penyelenggaraan Beut Panteu Keude di desanya. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah positif yang mampu mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para pemuda dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang ikut mempersiapkan kegiatan meski memiliki berbagai kesibukan.

“Selamat datang kepada seluruh tamu yang hadir. Kami juga berterima kasih kepada pemuda dan mahasiswa KKN yang telah membantu mempersiapkan kegiatan ini,” ujar Kamaruzzaman.

Kemenag Dorong Lahirnya Generasi Islami

Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Barat, Dr. H. Tgk. Khairul Azhar, menilai Beut Panteu Keude merupakan inovasi dakwah yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Menurutnya, kegiatan seperti ini perlu terus dikembangkan agar menjadi ruang pembinaan generasi muda yang tidak hanya religius, tetapi juga peduli terhadap budaya dan lingkungan sosial.

> “Beut Panteu Keude adalah sebuah usaha untuk membentuk generasi muda yang islami, yang peduli terhadap budaya dan agama,” katanya.

Ia menambahkan, derasnya perkembangan teknologi dan digitalisasi harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai agama sehingga generasi muda memiliki pondasi moral yang kuat.

UTU Beri Dukungan

Dukungan juga datang dari Universitas Teuku Umar (UTU). Kepala Pusat KKN dan MBKM UTU, Dr. Ir. Fitriadi, ST., MT., IPM., hadir mewakili Rektor UTU yang berhalangan hadir karena mengikuti rangkaian kegiatan pengenalan kampus bagi sekitar 2.009 mahasiswa baru.

Fitriadi menyampaikan salam dari Rektor UTU sekaligus mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Gampong Leukeun yang telah menerima mahasiswa UTU dalam program pengabdian kepada masyarakat.

Ia menilai Beut Panteu Keude menjadi ruang edukasi yang mampu memperkuat interaksi sosial sekaligus membangun karakter masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Pengajian Interaktif

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian yang dipandu Tgk. Miswardi, S.Sos., M.Sos. Materi yang dibahas mengenai bab bersuci, khususnya mandi hadas besar atau mandi janabah.

Berbeda dengan pengajian pada umumnya, peserta diberi kesempatan berdialog dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar persoalan ibadah yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sesi diskusi, Tgk. H. T. Burhanuddin menjelaskan tiga rukun mandi janabah berdasarkan Kitab *I’anatut Thalibin*, yakni niat, menghilangkan najis, dan meratakan air ke seluruh tubuh. Ia juga mengingatkan pentingnya berwudhu sebelum mandi janabah sebagai amalan sunnah serta memastikan tidak ada benda yang menghalangi air menyentuh kulit.

Konsep inilah yang menjadi ciri khas Beut Panteu Keude. Warung kopi yang selama ini identik sebagai tempat berkumpul kini dimanfaatkan sebagai ruang dakwah yang lebih terbuka, santai, dan dekat dengan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, warga tidak hanya mendengarkan tausiah, tetapi juga dapat berdiskusi dan mencari solusi atas berbagai persoalan keagamaan yang mereka hadapi.

Beut Panteu Keude diharapkan terus berlangsung secara rutin setiap bulan sebagai wadah memperkuat pemahaman agama sekaligus menjaga tradisi diskusi positif di tengah masyarakat Samatiga. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
× Advertisement