LANGKAT, KABAR RAKYAT – Peserta Latihan Kader (LK) 2 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Langkat menelusuri sejarah Kerajaan Kejuruan Stabat dalam kegiatan analisis sosial yang menjadi bagian dari proses perkaderan organisasi tersebut. Kelompok 1 LK 2 HMI Langkat secara khusus menyoroti aspek budaya lokal dan kondisi pelestarian situs sejarah di wilayah itu.
Dalam kunjungan lapangan, para peserta bertemu dengan Tengku Chandra Hardi, Raja ke-6 Kerajaan Kejuruan Stabat. Ia dikenal sebagai salah satu penjaga terakhir warisan budaya kerajaan dan masih menetap di rumah peninggalan kerajaan yang kini berstatus cagar budaya. Lokasi rumah berada di sisi Masjid Raya Stabat, salah satu titik penting dalam lanskap sejarah Langkat.
Tengku Chandra memaparkan kembali asal-usul Kerajaan Kejuruan Stabat yang disebut sebagai satu dari empat fondasi kerajaan sebelum berdirinya Kesultanan Langkat.
“Sebelum adanya kesultanan, ada empat pondasi kerajaan di Langkat—Stabat, Bingai, Bahorok, dan Selesai. Kerajaan tertuanya adalah Stabat, kemudian Bingai, Selesai, dan terakhir Bahorok,” kata Chandra, pada Senin 17 November 2025
Meski memiliki nilai historis kuat, kondisi cagar budaya tersebut dinilai memprihatinkan. Peserta LK 2 mencatat minimnya perhatian pemerintah daerah dalam merawat situs-situs penting, termasuk Rumah Kejuruan yang semakin rentan rusak. Simbol-simbol budaya seperti Tanjak Melayu dan Tumbak Lada juga mulai tergerus dan tidak lagi dikenal luas oleh generasi muda.
Secara regulatif, para peserta menilai kelalaian pemerintah bertentangan dengan kewajiban perlindungan cagar budaya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Cagar Budaya. Dari sisi ekonomi, potensi pengembangan pariwisata berbasis sejarah disebut tidak dimanfaatkan secara optimal oleh Pemkab Langkat.
Salah satu peserta, Muhammad Haikal Tawakal, menyampaikan kritik tajam terhadap sikap pemerintah daerah.
“Warisan budaya di Langkat bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi identitas daerah. Namun hingga kini, pemerintah belum menunjukkan langkah konkret. Jika dibiarkan, yang hilang bukan hanya situs sejarah, tetapi martabat Langkat itu sendiri,” ujarnya.
Kegiatan analisis sosial tersebut diharapkan dapat mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat komitmen terhadap pelestarian warisan sejarah yang menjadi fondasi peradaban di Langkat.


Komentar