KABAR RAKYAT – Sebanyak 1.300 lebih jamaah haji meninggal dunia akibat panas ekstrem di Arab Saudi. Bencana itu terjadi pada musim haji tahun 2024.
Kini, tragedi itu menjadi pelajaran penting dan mahal bagi pemerintah Arab Saudi. Demi memperketat keamanan dan Razia besar-besaran terhadap jamaah haji illegal dan penyalur meupakan salah satu upaya serius Kerajaan Saudi agar tragedy yang sama tidak terulang lagi.
Dair laporan Kementerian Haji Saudi sebagian besar jamaah haji yang meninggal karena cuaca panas ekstrem dan rata-rata yang meninggal merupakan jamaah haji yang tak punya izin atau illegal.
“Jumlah kematian mencapai 1.301, sebanyak 83 persen diantaranya tidak sah menunaikan ibadah haji dan berjalan jauh dibawah sinar matahari langsung tanpa tempat perlindungan atau kenyamanan yang memadai,” tulis kantor berita resmi Saudi Press Agency.
Jamaah haji yang meninggal berasal dari lebih 10 negara, mulai dari Amerika Serikat hingga Indonesia. Panas ekstrem sebagai factor utama dibalik kematian dan kasus cedera jamaah haji pada tahun lalu. Mekkah yang merupakan kota suci sempat mengalami lonjakan suhu hingga mencapai 125 derajat Fahrenheut atau 51.6 derajat celcius.
Tahun ini dengan slogan Tiada Haji Tanpa Izin, tahun ini pemerintah Saudi akan memperketat keamanan untuk membendung para jamaah haji illegal dari berbagai negara.
Langkah otoritas Kerajaan Saudi ini pun dilakukan sangat serius, terutama dalam mencegah ratusan ribu para Jemaah haji illegal ke Mekkah.
Direktur Keamanan Publik dan Ketua Komite Keamanan Haji, Mohammed Al Bassami melaporkan pihak keamanan Saudi mengusir setidaknya 205.000 jamaah haji illegal seluruh negara Mekkah.
Total ada 269.000 lebih orang tanpa visa haji yang berhasil dihalau pihak keamanan Saudi karena mencoba masuk ke Mekkah. Mereka mencoba melakukan ibadah haji tanpa visa haji yang merupakan syarat utama bagi para jamaah haji.
“Bahkan Saudi juga berhasil menggerebek sekitar 415 perusahaan penyelenggara haji palsu,” tulis laporan tersebut seperti dikutip dari media resmi Saudi Gazzette.
Al Bassami mengatakan Razia intensif dilakukan dengan berbagai metode termasuk menerbangkan drone-drone patrol hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI). (Red)


Komentar