KABARRAKYAT.news – Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma, membantu biaya pemulangan jenazah Musfikal (34), warga Bulukat Teubai, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, yang ditemukan meninggal dunia di perairan Dumai, Provinsi Riau.
Musfikal ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh nelayan pada Rabu (19/8/2026), setelah sebelumnya dilaporkan hendak berangkat ke Malaysia untuk mencari pekerjaan pada 14 Agustus 2026.
Berdasarkan keterangan keluarga kepada Haji Uma, korban diduga berada di dalam sebuah bot yang karam saat perjalanan.
Jenazah Musfikal kemudian dievakuasi dan dibawa ke RSUD Dumai untuk menjalani pemeriksaan serta proses otopsi.
Pihak rumah sakit menyebutkan terdapat dua jenazah yang ditemukan warga di perairan Dumai. Satu di antaranya merupakan warga Aceh, sementara satu lainnya warga Nusa Tenggara Barat.
Dalam proses pengurusan jenazah, keluarga Musfikal sempat mengalami kendala biaya rumah sakit dan pembelian peti jenazah yang mencapai Rp8,03 juta.
Setelah dilakukan koordinasi, keluarga berhasil mengumpulkan bantuan sebesar Rp5 juta. Sementara kekurangan biaya sebesar Rp3,03 juta dibantu oleh Haji Uma.
Untuk menjemput dan membawa jenazah pulang ke Aceh, keluarga juga membawa ambulans dari Aceh menuju Dumai.
Haji Uma Soroti Keberadaan Bot
Selain membantu biaya pemulangan jenazah, Haji Uma juga meminta agar kasus tersebut ditelusuri lebih lanjut.
Ia menilai masih terdapat sejumlah hal yang belum terungkap, terutama terkait keberadaan bot yang ditumpangi korban serta nasib penumpang lainnya.
“Kematian Musfikal dan satu warga lainnya ini masih menyimpan misteri. Kalau benar bot yang mereka tumpangi karam, kita perlu mengetahui ke mana penumpang lainnya, termasuk nahkoda,” kata Haji Uma.
Ia juga mempertanyakan siapa pemilik bot dan mengapa tidak terdapat laporan maupun pertanggungjawaban atas kejadian tersebut.
Menurut Haji Uma, berdasarkan informasi yang diterimanya, keberangkatan Musfikal menuju Malaysia diduga dilakukan melalui jalur ilegal atau jalur belakang tanpa dokumen resmi.
Karena itu, ia telah berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) melalui perwakilan Aceh agar kasus tersebut mendapat perhatian dan ditindaklanjuti.
Haji Uma juga meminta pihak terkait di Riau menelusuri keberadaan serta identitas bot yang berlayar melalui perairan Dumai pada 14 Agustus 2026.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menemukan saksi, mengetahui pemilik bot, serta mengungkap pihak yang memberangkatkan para calon pekerja migran tersebut.
“Kasus ini harus ditelusuri secara serius untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Kita perlu mencari saksi, mengetahui pemilik bot dan pihak yang memberangkatkan mereka. Jika memang ada praktik pemberangkatan ilegal, hal tersebut harus diungkap dan ditindak sesuai hukum,” ujarnya.
Pernah Bekerja di Malaysia
Menurut keterangan keluarga, Musfikal sebelumnya pernah masuk ke Malaysia. Kali ini, korban kembali berencana menuju negara tersebut untuk mencari pekerjaan.
Haji Uma menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Musfikal dan satu warga Indonesia lainnya yang ditemukan di perairan Dumai.
Ia berharap kedua korban mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
“Kita turut berduka atas musibah ini. Semoga arwah kedua korban diterima di sisi Allah SWT. Saya juga mengingatkan masyarakat yang hendak bekerja ke luar negeri agar menempuh jalur resmi dan legal, sehingga keberangkatan lebih aman serta memiliki kepastian perlindungan hukum,” kata Haji Uma.
Editor: RAHMAD


Komentar