ACEH TIMUR, KABAR RAKYAT — Hujan belum sepenuhnya reda ketika rombongan Haji Uma tiba di posko pengungsian Gampong Jalan, Idi Rayeuk. Bau lumpur masih menyelimuti udara, pakaian basah bergelantungan di tali, dan ratusan warga duduk berdesakan di tenda-tenda yang mulai lembab oleh cuaca.
Di tengah suasana itu, kedatangan H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, membawa sedikit cahaya bagi warga. Anak-anak yang sedari pagi hanya memeluk lutut, perlahan tersenyum ketika ia menghampiri, mengajukan pertanyaan kecil, atau sekadar mengusap kepala mereka. “Supaya jangan sedih lagi,” bisik seorang bocah perempuan, matanya masih sembab.
Haji Uma tidak datang sendiri. Ia bersama Wakil Bupati Aceh Timur, T. Zainal Abidin, dan Anggota DPRK Aceh Timur Geuchik Li. Usai menyalurkan bantuan logistik dari DPD RI, mereka berkeliling melihat langsung kondisi warga yang hingga kini masih bertahan di barak pengungsi.
Namun perhatian terbesar hari itu tertuju pada mereka yang berada di sudut-sudut barak: penyandang disabilitas, warga lanjut usia, dan orang-orang sakit yang hanya bisa terbaring di atas tikar tipis. Sebagian tidak dapat bergerak tanpa bantuan, sebagian lainnya berjuang menahan nyeri tanpa obat yang memadai.
Haji Uma berhenti di setiap barak, menundukkan badan agar sejajar dengan warga yang terbaring, mendengar keluhan mereka satu per satu.
“Dalam situasi seperti ini, mereka yang paling rentan justru sering tidak terlihat. Kita tidak boleh membiarkan mereka berjuang sendiri,” ujarnya, suaranya terdengar berat, Sabtu (6/12/2025).
Di Simpang Ulim, rombongan kembali menemukan cerita serupa: pasokan logistik yang belum merata, warga yang masih bertahan dengan sisa makanan, dan anak-anak yang tidur di lantai tanpa alas memadai. Seorang lansia menangis ketika menerima paket bantuan, sambil berkisah bahwa obat darah tinggi miliknya hanyut terbawa banjir.
Wakil Bupati Aceh Timur mengakui bahwa kondisi warga yang mengungsi sejak beberapa hari lalu masih jauh dari layak. Ia mengapresiasi dukungan cepat dari DPD RI dan menyebut kolaborasi ini sebagai “bahu tambahan” bagi pemerintah daerah yang tengah berjibaku memperbaiki akses dan distribusi.
Bagi para pengungsi, kunjungan hari itu bukan hanya tentang bantuan berupa beras atau kebutuhan pokok. Yang mereka rasakan adalah kehadiran orang-orang yang datang untuk melihat, mendengar, dan menguatkan.
Seorang ibu yang kehilangan seluruh perabotan rumahnya berbisik lirih, “Paling tidak, kami tidak dilupakan.”
Di tengah ketidakpastian kapan bisa pulang, kehadiran dan sentuhan empati itu menjadi pengingat bahwa masyarakat Aceh Timur tidak berdiri sendiri. Bahwa di balik tenda-tenda kusam itu, masih ada harapan yang perlahan disulam kembali. (*)


Komentar