KABAR RAKYAT – Dua produsen mobil Eropa Porsche dan Volvo sudah mulai memangkas tenaga kerjanya karena mulai merasakan tekanan dari dampak perubahan ekonomi global, kedua perusahaan otomotif mulai bersiap menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Dilansir dari berbagai sumber, hal ini disebabkan beberapa faktor salah satunya dampak negative dari perang dagang, Brexit, perlambatan ekonomi, serta persaingan ketat dipasar mobil listrik.
Dampak lainnya karena beberapa perusahaan juga mengalami penurunan laba yang signifikan, sehingga memaksa mereka melakukan efesiensi biaya, termasuk pemangkasan karyawan.
Salah satu perusahaan yang sudah menetapkan rencana pemangkasan karyawan adalah Volkswagen di Jerman yang direncanakan akan memangkas 35.000 pekerja pada tahun 2030.
Hal yang sama kini diikuti dua perusahaan besar lainnya yaitu Porsche dan Volvo. Keduanya telah mengumumkan pemangkasan ribuan karyawan.
CEO Porsche, Oliver Blume, mengatakan perubahan besar tengah terjadi dalam industry otomotif.
“Dunia telah berubah dan kami sudah siap menghadapi tantangan tersebut,” ujar Oliver.
Untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pasar, Porsche telah meluncurkan program efesiensi biaya dan penyesuaian skala, dimana imbasnya sekitar 3.900 karyawannya harus dipangkas hingga tahun 2029.
Hal yang sama juga sudah dilakukan oleh Volvo, dimana pihaknya telah mengumumkan melakukan pemangkasan karyawan sekitar 3.000an secara global sebagai bagian dari efesiensi biaya. Langkah tersebut, sangat berdampak pada posisi kerja kantoran di Swedia yang mencakup sekitar 15 persen dari total pegawai kantor Volvo secara global.
Dari total itu, sekitar 1.000 merupakan konsultan dan 1.200 merupakan karyawan tetap di Swedia. Pemangkasan direncanakan akan dimulai dimusim gugur tahun 2025.
Dalam laporannya, Volvo memperkirakan biaya restrukturisasi akan mencapai 157,6 juta dollar AS atau setara Rp 2,5 triliun. “Keputusan ini tidak mudah, tetapi penting untuk masa depan perusahaan,” ucap CEO Volvo, Hakan Samuelsson.
Peralihan mobil bensin (ICE) dan plug-in hybrid ke mobil listrik (EV) yang lambat membuat sejumlah perusahaan idustri raksasa harus mengambil sikap yang pasti terhadap masa depan perusahaannya. Situasi itu mencerminkan dampak dan tekanan besar yang kini sudah mulai dirasakan industry otomotif Eropa ditengah ketidapastian ekonomi global. (rzk)


Komentar