ACEH TIMUR, KABAR RAKYAT — Dua pekan setelah banjir bandang menerjang Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, ratusan warga masih hidup dalam kondisi darurat. Listrik tak kunjung menyala, air bersih langka, dan fasilitas sanitasi nyaris tidak tersedia di lokasi pengungsian.
“Kami masih hidup seperti diabaikan. Sudah dua minggu lebih, tapi listrik dan air bersih belum juga ada,” kata Rudy, warga Desa Sah Raja, Sabtu (20/12/2025).
Menurut Rudy, warga terpaksa bertahan di beberapa titik pengungsian dengan kondisi serba terbatas. Warga Dusun Sarah Gala mengungsi di SMP Negeri 4 Sejudo, warga Dusun Puring bertahan di perbukitan, sementara warga Dusun Sah Raja dan Dusun HTI mengungsi di Bukit Janing, tak jauh dari permukiman mereka.
Ironisnya, di tengah ketiadaan fasilitas dasar, sebagian warga justru kembali ke desa untuk menyelamatkan harta benda yang tertimbun lumpur. “Motor kami banyak yang terkubur lumpur sampai hampir satu meter. Rumah rusak, tapi tetap kami perbaiki seadanya karena tenda pengungsian sangat kurang,” ujarnya.
Rudy mengakui bantuan logistik mulai berdatangan dari sejumlah pihak. Namun bantuan tersebut dinilainya belum menyentuh akar persoalan yang dihadapi warga.

Rumah warga Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, tampak rusak dan dipenuhi lumpur tebal serta kayu balok pascabanjir bandang. (Dok Kabar Rakyat)
“Makanan ada, pakaian ada. Tapi kami tidak bisa hidup tanpa listrik dan air bersih. Malam hari gelap total, WC darurat tidak ada, risiko penyakit makin tinggi,” tegasnya.
Rudy juga menyoroti kunjungan Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky ke Desa Sah Raja pada 11 Desember 2025 lalu. Namun, menurut warga, kunjungan tersebut belum diikuti langkah konkret.
“Sampai hari ini belum ada genset atau sumber listrik darurat yang masuk. Sejak banjir tanggal 25 November, kami masih menunggu realisasi,” katanya.
Ketiadaan listrik membuat pelayanan kesehatan nyaris lumpuh. Alat komunikasi terbatas, warga kesulitan menghubungi keluarga maupun petugas medis, sementara malam hari dilalui tanpa penerangan sama sekali.
Krisis air bersih dan fasilitas WC juga memperburuk kondisi pengungsian. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok paling rentan terdampak.
Saat ini, kebutuhan mendesak warga Desa Sah Raja meliputi genset atau panel surya, tenda pengungsian, air bersih, WC darurat, obat-obatan, tenaga medis, alat komunikasi, kebutuhan bayi, popok anak dan dewasa, logistik, serta perlengkapan ibadah.
“Banjirnya memang sudah lewat, tapi penderitaan kami masih berjalan. Kami butuh kehadiran negara yang nyata, bukan sekadar datang melihat lalu pergi,” pungkas Rudy. []


Komentar