KABAR DUNIA TEKNOLOGI
Beranda » Alasan Bos Google Sebut AI Gemini 2.0 Lebih Efesien

Alasan Bos Google Sebut AI Gemini 2.0 Lebih Efesien

Alasan Bos Google Sebut AI Gemini 2.0 Lebih Efesien
Foto : Ilustrasi

KABAR RAKYAT -Chief Executive Officer (CEO) Google Sundar Pichai mengklaim mesin kecerdasan buatan atau AI Gemini 2.0 lebih baik dibanding Deepseek—Chatbot buatan perusahaan asal Cina. Dia menonjolkan kemampuan Gemini terbaru, Gemini Flash 2.0, yang dianggap sudah melampaui model-model AI pesaingnya.

“Model Flash Thinking 2.0 kami merupakan beberapa model yang paling efisien, termasuk jika dibandingkan dengan DeepSeek V3 dan R1,” kata Pichai, dikutip dari siaran pers laporan keuangan terbaru Alphabet, dilansir Jum,at (7/2).

Dua Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Pemerintah Kejar Jalan Keluar Setelah Iran Beri Sinyal Positif

Pichai yang juga memimpin Alphabet Inc, entitas induk Google, memuji kinerja pengembang Deepseek yang mampu bersaing dalam pasar produk AI. Namun dia menganggap kehadiran Gemini 2.0 Flash pada Desember 2024 mulai mengubah peta persaingan.

Deepseek muncul sebagai salah satu penantang utama produk ChatGPT milik OpenAI, serta Gemini milik Google. Namun, karena kecurigaan ihwal kebocoran data ke Pemerintah Cina, adopsi Deepseek belakangan dilarang oleh sejumlah lembaga bahkan level pemerintah negara.

Trump Tarik Bos Meta Hingga Nvidia ke Lingkar Dalam Gedung Putih, Arah Kebijakan AI AS Kian Dikuasai Raksasa Teknologi

Teknologi AI generatif Google ini memiliki latensi rendah dan peningkatan kinerja yang signifikan dibanding pendahulunya, Gemini 1.5. Menurut Pichai, kinerja Gemini paling unggul pada penerapan batas ‘prinsip pareto’. Prinsip tersebut memakai logika 80 persen hasil berasal dari 20 persen penyebab.

Pichai memastikan manajemennya masih terus mengembangkan dan mengoptimalkan layanan AI secara menyeluruh, demi miliaran pengguna di seluruh dunia. Pernyataan itu diperkuat oleh Senior Vice President sekaligus Direktur Keuangan Alphabet Anat Ashkenazi, yang menyebut Google akan berinvestasi hingga US$ 75 miliar atau sekitar Rp 1.224 triliun dalam belanja modal tahun ini. Modal itu untuk menyokong pengembangan infrastruktur teknis, terutama server, diikuti pusat data dan jaringan.

“Kami akan berinvestasi di area pertumbuhan AI dan Cloud,” tutur Ashkenazi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement