KABAR RAKYAT – Seluruh kendaraan di persimpangan di Banda Aceh terhenti selama tiga menit saat sirene peringatan 20 tahun bencana tsunami digaungkan.
Suara sirene meraung-raung selama tiga menit di Banda Aceh dan sekitarnya tepat pukul 08.00 WIB. Di Simpang Masjid Oman, ada dua suara sirene yang berbunyi, salah satunya dari sistem peringatan dini yang terpasang di kompleks kantor Gubernur Aceh.
Berselang beberapa detik, suaranya lebih kencang meraung-raung. Tombol sirene ditekan Pj Gubernur Aceh Safrizal dari lokasi peringatan 20 tahun tsunami di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Suara sirene serentak terdengar di seluruh kota. Ketika sirene berbunyi, kendaraan yang melintas di semua persimpangan disetop. Polisi berjaga-jaga hingga suara sirene berakhir.
Selain itu suara sirene dibunyikan di gerbang tol Sigli-Banda Aceh serta jalanan di seluruh Aceh. Di beberapa lokasi, suara sirene berasal dari mobil polisi lalu lintas.
“Seluruh arus lalu lintas dihentikan sementara dari segala jurusan selama 3 menit seraya berdoa untuk para syuhada tsunami Aceh,” kata Dirlantas Polda Aceh Kombes Muhammad Iqbal Alqudusy, (26/12).
Disisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh mengajak warga untuk berzikir dan berdoa bersama dalam acara “Aceh Thanks the World” yang digelar di halaman Masjid Raya Baiturrahman pada Kamis (26/12) pukul 08.00 hingga selesai.
Acara ini mengangkat tema ‘Beranjak dari Masa Lalu, Menuju Masa Depan Aceh Bersyariat.’ Acara peringatan 20 tahun Tsunami Aceh ini diawali dengan ziarah ke makam para syuhada korban tsunami di Ulee Lheue, Banda Aceh.
Kemudian rombongan akan berangkat menuju Masjid Raya Baiturrahman untuk menyalakan Tsunami Early Warning System atau sirine tsunami selama 3 menit dimulai pada pukul 07.59 WIB, waktu yang sama saat terjadinya Tsunami Aceh.
Hal tersebut bertujuan menghentikan aktivitas masyarakat untuk merefleksi dan mengenang tragedi Tsunami Aceh.
Kegiatan utama dalam peringatan 20 tahun Tsunami Aceh ini adalah berzikir, bertafakur, dan berdoa bersama untuk mengenang para syuhada yang gugur dalam tragedi Tsunami Aceh pada 2004 silam.
Peringatan tahunan Tsunami Aceh tidak hanya menjadi ritual untuk mengenang peristiwa tragis, tetapi juga menjadi upaya memperkuat ikatan solidaritas dan membangun resiliensi dalam menghadapi bencana alam di masa mendatang.


Komentar