ACEH TIMUR, KABAR RAKYAT — Banjir bandang di Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, kembali membuka rapuhnya kesiapan layanan kesehatan publik di wilayah rawan bencana. Rusaknya UPTD Puskesmas Lokop membuat pelayanan medis praktis lumpuh, memaksa warga menggantungkan harapan pada bantuan pihak swasta dan relawan.
Dalam kondisi tersebut, PT Medco E&P Malaka bersama Medco Foundation, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Aceh Timur, UPTD Puskesmas Lokop, serta Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Aceh Timur turun langsung menggelar layanan kesehatan darurat pada Sabtu (13/11/2025).
Banjir dilaporkan merusak rumah warga serta sejumlah fasilitas umum dan sosial. Puskesmas Lokop yang menjadi tulang punggung layanan kesehatan masyarakat terdampak cukup parah. Sejumlah peralatan medis dan obat-obatan hilang terseret arus, sehingga pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya hingga pascabencana.
Kondisi ini membuat kelompok rentan—anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia—berada dalam posisi paling terancam. Untuk menutup kekosongan layanan, enam dokter umum dan tujuh dokter spesialis dari IDI Aceh Timur, dibantu bidan dan perawat Puskesmas Lokop serta tenaga medis Medco Foundation, memberikan layanan kesehatan darurat.
Ironisnya, pelayanan medis justru harus dipusatkan di Kantor Polisi Subsektor Lokop, bukan di fasilitas kesehatan, karena sarana publik yang seharusnya siap digunakan pascabencana belum dapat difungsikan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Mobile Medical Services Medco E&P dan Medco Foundation. Program tersebut menjadi penyangga sementara di tengah lemahnya pemulihan layanan kesehatan dasar oleh pemerintah daerah, terutama di wilayah yang berulang kali terdampak banjir.
General Manager Block A Medco E&P, Tutu Paniji, menyebut kegiatan tersebut sebagai respons tanggap darurat perusahaan. “Kami berharap layanan kesehatan ini dapat membantu masyarakat Serbajadi yang terdampak banjir, khususnya menjaga kondisi kesehatan pascabencana,” ujarnya.
Namun peristiwa ini kembali menegaskan bahwa dalam situasi darurat, kehadiran negara di sektor layanan dasar masih kerap terlambat. Ketika fasilitas kesehatan publik lumpuh, peran swasta dan relawan kembali menjadi tumpuan utama warga untuk bertahan.


Komentar